Copyright 2018 - Pengadilan Agama Stabat

Stabat, pa-stabat.net (10/01)
Tahun baru 2018 baru saja menjumpai kita, oleh karena itu kita berharap kiranya tahun ini membawa perubahan kearah yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Akan tetapi perubahan itu sendiri tidak akan terjadi sebelum kita sendiri merubah pola, sikap maupun mainset kita kea rah yang lebih baik. Begitu firman Allah dalam al qur’an surah Arra’du ayat 11.

Masa depan adalah masa yang panjang dan tak pasti, oleh karena itu kitalah yang merancang, merencanakan seperti apa masa depan kita itu, apakah syaqiyyun (sengsara) am sa’idun (bahagia)?. Untuk mencapai hidup bahagia di masa depan wabilkhusus di seberang kematian, maka ketika didunia ini tempatnya mempersiapkan benih, bibit dan menanamnya, nanti diakhirat panennya.

Hidup di akhirat adalah yang sebenarnya dan tidak akan mati lagi dan kehidupan 1 hari di alam akhirat itu laksana 1000 tahun di dunia ini (QS.Alhajj ayat 47). Ketika di akhirat bahkan ketika di alam kubur sudah tergambar bakal hasil panennya. In khairon fakhoirun (jika baik yang ditanam maka penennya baik) wain syarron fasyarrun (jika yang ditanam itu yang tidak bagus maka panennya tidak baik).

Kalau dihitung hitung, masing-masing waktu kita sama 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari semalam, 7 hari dalam sepekan, 30 hari sebulan, 12 bulan dalam setahun. Padahal menurut imam Al Ghazali bahwa jika seseorang itu tidur 8 tiap hari dan ianya berusia 60 tahun, maka ia telah tidur selama 20 tahun. Akan tetapi seringkali nikmat waktu/kesempatan dan kesehatan dilupakan, seperti yang telah diprediksi oleh Rasul dalam hadis Riwayat Bukhari dari Ibnu ‘Abbas

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”.
Oleh karena itu mari kita manfaatkan kesehatan dan kesempatan untuk meraih kebahagiaan di dunia ini maupun akhirat kelak dengan memanfaatkan semaksimal mungkin lima nikmat sebelum datang bang lima hal sebagaimana hadis di bawah ini:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim).

Kita akui, kita orang biasa. Banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan dan kemalasan itu manusiawi, yang penting bagaimana di tengah keterbatasan itu kita dahsyatkan diri agar lahir prestasi tinggi. Itulah kepahlawanan sejati.

Sejarah mencatat, banyak orang besar justru lahir ditengah himpitan kesulitan bukan buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi duniai untuk kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan tidur malamuntuk bias bangun malam. Sedikit canda untuk rasakan nikmatnya ibadah. Tidak berlebihan dalam bargaul ‘tuk ‘rasakan lezatnya iman. Menahan diri dari maksiat biar tubuhnya tetap sehat.

Demikian ringkasan bintal Pengadilan Agama Stabat yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22 Raabiul Akhir 1438 H/10 Januari 2018, oleh Drs.M.Arsyad Harahap, S.H., semoga bermanfaaat.