Copyright 2018 - Pengadilan Agama Stabat

Stabat, pa-stabat.net (02/05)
Kalau dihitung-hitung, masing-masing waktu manusia baik yang kecil, yang besar, yang muda, yang tua, laki-laki maupun perempuan adalah sama yaitu 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, 24 jam sehari semalam dan 7 hari dalam sepekan dan seterusnya. Anda hitung sendirilah waktumu. Namun  kata imam Al Ghazali, kalau umur orang umumnya 60  tahun, dan rata-rata tidurnya 8 jam sehari, maka dalam 60 tahun itu ia telah tidur selama 20 tahun, mana prestasinya dan kapan beribadahnya ? itulah kebanyakan manusia.

Kita akui, kita orang biasa, banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan dan lain-lain. Itu bukan masalah, tapi bagaimana ditengah keterbatasan itu kita kita dahsyatkan diri agar prestasi tinggi, itulah kepahlawan sejati.

Sejarah mencatat, banyak orang besar justru lahir ditengah himpitan, kesulitan bukan buaian kemanjaan, mereka besar karena mengurangi tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi duniawinya untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi, menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam, sedikit canda untuk rasakan nikmatnya ibadah, tak berlebihan dalam bergaul untuk rasakan lezatnya iman, menahan diri dari maksiat biar tubuhnya tetap sehat. Untuk itu dahsyatkan dirimu. Mendahsyatkan pribadi menjadi luar biasa.

Sebagai contoh: Imam At-Tirmidzi yang begitu unggul dan piawai dalam menghafalkan hadist-hadist. Ia merupakan salah satu ulama terbaik yang meski begitu tidak pernah sama sekali merasa paling mulia di dunia. Justeru selalu terpikirkan olehnya, kekhawatiran tentang bekal amalnya yang belum cukup. Di masa tuanya, Imam Tirmidi takut jika saat dipanggil pulang oleh allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia masih kurang dalam beramal shaleh, masih punya dosa-dosa yang belum terampunkan.

Terus menangis sang Imam, takut jika sewaktu-waktu datang Malaikat Jibril, bekal yang telah diupayakannya selama ini masih kurang. Menangis tak henti-henti, mohon ampun pada Allah agar bermurah hati mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Karena demikian takutnya, air mata yang tak berhenti keluar dari dua kelopak matanya, Imam Tirmidzi menghabiskan sisa usianya dengan kebutaan.
Dua matanya buta akibat terus menangis setiap waktu. Ulama sekelas beliau, amal kebaikan yang mungkin menggunung, dosa yang tidak seberapa, jariyah yang sudah terkumpul menumpuk. Masih takut jika bekal tidak cukup. Lalu bagaimana dengan kita yang teramat jauh selisihnya dengan beliau? Amal pas-pasan, mengerjakannya bercampur paksaan, dosa berjejer berserakan.

Sudah semestinya setiap manusia introspeksi dan mawas diri. Sifat santai akan kehidupan atau dosa-dosa yang masih belum dimohonkan ampunan bisa jadi hadir karena tipu daya syaitan. Sungguh masih sangat misterius hari esok. Sungguh masih sangat menyeramkan alam kubur. Jika Imam Tirmidzi saja takut apakah bekalnya sudah cukup, semestinya kita lebih khawatir dari beliau.

Jika Imam Tirmidzi sampai pada kebutaan tersebab tangisan ketakutan yang tiada henti, mengapa kita justeru seperti santai sekali menghabisi sisa usia dengan biasa-biasa. Di usia yang sudah banyak ini, tidak malukah kita jika untuk shalat saja masih sulit dikerjakan. Disaat Nabi yang sudah dijaminkan surganya saja sampai bengkak kakinya karena terlalu lama berdiri saat shalat sunnah. Disaat para ulama dan para Imam khawatir akan hari di mana Allah menanyakan pertanggungjawaban. Harus menunggu apalagi kita agar sadar akan pentingnya terus memaksimalkan waktu untuk tiada henti mengumpulkan bekal
Perbanyaklah kegiatan yang memperkaya bathin kita, misalnya membaca buku yang meningkatkan ilmu kita, mendengarkan musik Islami atau alunan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Dengan banyak membaca, akal kita semakin terasah, sehingga bisa melahirkan gagasan-gagasan baru untuk memperbanyak ibadah.

Nah, bukankah keyakinan kita kepada Allah membuat kita semakin mantap menghadapi hari tua. Jadi, sebenarnya bukan bekal untuk hari tua yang kita perlukan, namun bekal untuk akhirat. Untuk mencapai akhirat dengan selamat, maka satu-satunya cara untuk membekali diri kita ialah dengan mengikuti aturan main yang telah difirmankan-Nya dalam Al-Qur-an.

Demikian ikhtisar ceramah bintal Pengadilan Agama Stabat pada hari Rabu tanggal 9 Sya’ban 1439 H/25 April 2018 oleh Drs. Mawardi Lingga, M.A.